https://ojs.poltekkes-malang.ac.id/JMJ/issue/feedJember Maternal and Child Health Journal2026-05-28T00:00:00+00:00I Gusti Ayu Karnasihiga_ayukarnasih@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>Jember Maternal and Child Health Journal</strong> This journal is published by Politeknik Kesehatan Kemenkes Prodi Jember. Offers an exclusive forum for advancing scientific and professional knowledge of the maternal and child health field. Peer-reviewed papers address maternal and child practice, policy, and research, exploring such topics as maternal and child epidemiology, demography, and health status assessment. Exploring the full spectrum of the field, Jember Maternal and Child Health Journal is an important tool for practitioners as well as academics in public health, obstetrics, gynecology, prenatal medicine, pediatrics, and neonatology. This journal is published twice a year in May and November, e-ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20240712071636901" target="_blank">3063-3710</a></p> <p> </p>https://ojs.poltekkes-malang.ac.id/JMJ/article/view/6175Maternal Mental Health and Stunting among Children Aged 24-59 Months in Jember Regency2026-01-15T00:43:49+00:00Firli Riana Sari212310101083@mail.unej.ac.idTantut Susantotantut_s.psik@unej.ac.idLatifa Aini Susumaningrumlatifa_as.psik@unej.ac.id<p style="font-weight: 400;"><strong>Background: </strong>Stunting remains a major nutritional problem worldwide, especially in midlle and low-income countries.Poor mental health may diminish a mother’s capacity to adequately care for her child, which will ultimately contribute to stunting in children.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Aim: </strong>The aim of this study was to analyze the relationship between maternal mental health and stunting among children aged 24–59 months in Jember District. A Cross-Sectional study was conducted among 215 mothers who had children in the age group of 24–59 months using stratified random sampling. A self-administered questionnaire was used to collect the data, including socio-demographic data and a self-reporting questionnaire (SRQ-20), while digital microcode and digital scales were used to measure children's anthropometry.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Result:</strong> The result showed that 44% of mothers were identified as having indicated mental health disorders. Meanwhile, children who suffer from stunting were 76% and 24% classified as severely stunted. The results of research using the Chi-Square test showed that maternal mental health was significantly associated with stunting ((χ2= 4,44; p-value <0,05). Moreover, maternal mental health is a protective factor against more severe stunting in children (OR= <1; 95% CI= 0.278-0.959).</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Conclusions</strong>: Maternal mental health is a associated with stunting among children in the age group of 24–59 months.Therefore, emphasis should be given to preventing, managing, and maintaining maternal mental health to prevent stunting.</p>2026-05-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jember Maternal and Child Health Journalhttps://ojs.poltekkes-malang.ac.id/JMJ/article/view/6546Hubungan Status Gizi (Indeks Massa Tubuh) Dengan Usia Menarche Pada Remaja Putri Di SMP Plus Darus Sholah Jember2026-05-25T06:41:18+00:00Regina Diah Bela Salindriindribella49917@gmail.comKiswati Kiswatikiswati.frq@gmail.com<p>Menarche merupakan indikator penting dari perkembangan pubertas pada remaja putri, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah status gizi. Rata-rata usia menarche remaja putri di Indonesia adalah 13 tahun. Hasil studi pendahuluan pada 15 remaja putri didapatkan memiliki IMT yang normal paling banyak mengalami <em>menarche </em>di usia 11-13 tahun yaitu 7 responden (46,6%), Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan usia menarche remaja putri. <strong>Metode: </strong>Desain penelitian <em>observasional analitik </em>dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi berjumlah 35 responden dengan jumlah sampel 32 responden yang dipilih menggunakan teknik <em>simple random sampling</em>. Alat ukur menggunakan quisioner dan z-score untuk mengidentifikasi status gizi. Analisis data menggunakan Uji <em>Spearman Rank</em>. <strong>Hasil: </strong>56,25% IMT normal, 34,38% IMT gemuk, 6,25% IMT obesitas, 3,13% IMT kurus. 84,38% menarche normal, 9,38% menarche dini, dan 6,25% menarche terlambat. Nilai <em>p-value </em>0,000 < α, rs=0,584 yang artinya terdapat hubungan cukup kuat antara IMT dengan Usia menarche pada remaja putri di SMP Plus Darus Sholah Jember. <strong>Diskusi: </strong>Status gizi yang ideal berperan penting dalam mendukung perkembangan pubertas yang normal. Remaja putri dengan IMT yang seimbang cenderung mengalami menarche pada usia yang sesuai dengan rentang normal. Guru dan orang tua diharapkan dapat mengatur pola makan dan aktivitas fisik remaja putri agar seimbang untuk mendukung perkembangan IMT ideal.</p>2026-05-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jember Maternal and Child Health Journalhttps://ojs.poltekkes-malang.ac.id/JMJ/article/view/6178Konseling Keluarga Terhadap Kesadaran Gizi Keluarga Dan Status Gizi Balita 2026-01-16T00:25:50+00:00Siska Christinncischchan22@gmail.comTantut Susantotantut_s.psik@unej.ac.idLatifa Aini Susumaningrumlatifa_as.psik@unej.ac.idNi Ketut Ardhaniadhani@yahoo.com<p style="font-weight: 400;">Rendahnya tingkat kesadaran gizi berdampak pada kejadian stunting pada balita. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh penyuluhan keluarga terhadap kesadaran gizi keluarga dan status gizi balita. Penelitian ini menggunakan metode campuran; kuantitatif dengan desain <em>quasi-eksperimental one-group pretest-posttest</em> dan kualitatif dengan wawancara. Penelitian ini melakukan terapi penyuluhan keluarga pada partisipan (5 keluarga pada kelompok kontrol dan 5 keluarga pada kelompok intervensi). Kelompok intervensi diberikan 6 sesi terapi penyuluhan keluarga selama 60 menit, sedangkan kelompok kontrol diberikan pendidikan kesehatan melalui leaflet. Uji-t dilakukan untuk mengukur perbedaan antara kesadaran gizi keluarga dan status gizi <em>z-score </em>balita sebagai satu perbandingan pre- dan posttest data awal dan 2 minggu pada kelompok kontrol dan intervensi. Wawancara mendalam dilakukan untuk mengeksplorasi informasi perubahan perilaku setelah intervensi. Berdasarkan uji t, terdapat perbedaan bermakna peningkatan kesadaran gizi keluarga pada kelompok kontrol (ΔM±SD=7,80±3,633; 95%CI= –12,311–(–3,289)) dan kelompok intervensi (ΔM±SD=13,80±4,324; 95%CI= –19,169–(-8,431)). Di sisi lain, status gizi balita menunjukkan nilai P>0,05 untuk masing-masing indeks yang berarti tidak terdapat perbedaan bermakna status gizi balita setelah dilakukan konseling keluarga. Dapat disimpulkan bahwa terapi konseling keluarga efektif dalam meningkatkan kesadaran gizi keluarga (t<sub>hitung</sub>=2,375; P= 0,046). Oleh sebab itu, diharapkan tenaga kesehatan tetap mampu memberikan konseling keluarga dan meneliti lebih jauh tentang frekuensi konseling keluarga terhadap status gizi balita dalam jangka waktu yang cukup. Selain itu, tenaga kesehatan dapat memberdayakan kader posyandu dalam pelaksanaan konseling keluarga.</p>2026-05-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jember Maternal and Child Health Journalhttps://ojs.poltekkes-malang.ac.id/JMJ/article/view/5785Efektivitas Pendampingan Minum Tablet Tambah Darah Terhadap Kepatuhan dan Kadar Hemoglobin Remaja Putri di MAN 2 Banyuwangi2025-08-13T03:50:45+00:00DICHA LUTFATUL KHOIROTdichalutfa@gmail.comI Gusti Ayu Karnasihdicha@gmail.com<h1>ABSTRAK</h1> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Pendampingan merupakan proses dinamis yang dapat meningkatkan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri. Meskipun cakupan pemberian TTD meningkat dari 31,3% pada 2021 menjadi 78,9% pada 2023, tingkat konsumsinya masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendampingan selama proses konsumsi. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui efektivitas pendampingan minum TTD terhadap kepatuhan dan kadar hemoglobin (Hb) remaja putri di MAN 2 Banyuwangi tahun 2025. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan <strong>D</strong><strong>esain</strong> <em>pre-eksperimental</em> dengan pendekatan <em>One-Group Pretest-Posttest</em>. Populasi terdiri dari 271 remaja putri, dan 73 sampel dipilih menggunakan <em>teknik simple random sampling</em><strong>. Instrumen</strong> penelitian berupa kuesioner dan alat <em>easy touch</em>. Analisis data menggunakan uji <em>Paired Sample T-test</em>. <strong>Hasil:</strong> Sebelum pendampingan, sebanyak 54,8% responden kurang patuh. Setelah pendampingan, kepatuhan meningkat menjadi 91,8%. Kadar Hb awal berkisar antara 9 - 19,12 gr/dl, meningkat menjadi 11–13,60 gr/dl. Uji statistik menunjukkan nilai <em>p-value</em> 0,00 < ? 0,05. <strong>Kesimpulan:</strong> Pendampingan terbukti efektif dalam meningkatkan kepatuhan dan kadar hemoglobin remaja putri dalam mengonsumsi tablet tambah darah.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Pendampingan, Tablet Tambah Darah, Kadar Hemoglobin, Kepatuhan</p>2026-05-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jember Maternal and Child Health Journalhttps://ojs.poltekkes-malang.ac.id/JMJ/article/view/6524Hubungan Ketuban Mekoneal Dengan Kejadian Asfiksia Neonaturum Di RSD Kalisat Jember2026-05-05T06:38:35+00:00Yati Nur Indah Sarinurul.wahda5@gmail.comDian Aby Restantynurul.wahda5@gmail.comKiswati Kiswatinurul.wahda5@gmail.comSyiska Atik Mnurul.wahda5@gmail.com<p>Ketuban mekoneal merupakan ketuban yang bercampur mekoneum bayi yang beresiko menyebabkan Meconeal Aspirasi Syndrome (MAS) sehingga menyebabkan asfiksia pada bayi. WHO melaporkan 60.000 kasus ketuban mekoneal pada 2019, dengan 2-6% mengalami MAS. Di Indonesia tahun 2019 kejadian ketuban mekoneal sebanyak 14.479 kasus. Kabupaten jember khususnya di RSD Kalisat , pada tahun 2022 terjadi 799 kasus ketuban mekoneal, 502 kasus MAS, dan 409 kasus asfiksia. Tahun 2023 meningkat menjadi 824 kasus ketuban mekoneal, 651 kasus MAS, dan 551 kasus asfiksia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ketuban mekoneal dengan kejadian asfiksia neonatorum Penelitian ini menggunakan analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional retrospektif. Populasi sebanyak 405 ibu bersalin pada bulan Oktober-Desember 2023, sampel sebanyak 201 ibu bersalin dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling. Analisis menggunakan uji Chi Square.Berdasarkan hasil analisis menggunakan Chi- Square, didapatkan ada hubungan antara ketuban mekoneal dengan kejadian Asfiksia Neonatorum dengan ρ value 0,000 < α (0,05) dengan kekuatan hubungan sedang. Sebagian besar ibu bersalin mengalami ketuban mekoneal yang menyebabkan MAS sehingga bayi mengalami asfiksia. ANC teratur dapat dilakukan oleh ibu hamil serta rutin mengikuti kelas ibu hamil untuk mengetahui dan menghindari penyebab dari ketuban mekoneal yang akan menyebabkan asfiksia pada bayi</p>2026-05-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jember Maternal and Child Health Journal