SARI JERUK NIPIS DAN BELIMBING WULUH SEBAGAI KOAGULAN DAN PENGAWET ALAMI PADA PROSES PEMBUATAN TAHU PUTIH

  • Geva Ajeng Ardianty Poltekkes Kemenkes Malang, Jawa Timur, Indonesia
  • I Komang Suwita Poltekkes Kemenkes Malang

Abstract

Tahu putih merupakan salah satu produk pangan yang rawan disimpan menggunakan bahan
pengawet berbahaya. Tujuan penelitian ini mengetahui tingkat ketahanan tahu putih menggunakan
bahan pengawet alami berupa sari jeruk nipis dan belimbing wuluh serta tingkat penerimaannya di
masyarakat. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan desain percobaan Rancangan Acak
Lengkap menggunakan 4 taraf perlakuan dengan variabel proporsi sari jeruk nipis dan belimbing
wuluh, waktu penyimpanan, dan suhu penyimpanan pada suhu ruang (20-25°C). Uji organoleptik
tingkat kesukaan yang dilakukan warna, aroma, rasa, dan tekstur. Hasil uji statistik Kruskal Wallis
pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan (p<0,05) terhadap
warna tahu. Secara keseluruhan panelis lebih menyukai produk tahu putih taraf perlakuan P3 dengan
koagulan sari jeruk nipis dan sari belimbing wuluh. Produk tahu putih tahan selama 3 hari pada suhu
ruang 20-25°C. Sedangkan umur simpan produk paling baik ada pada taraf perlakuan P1 dan P2
dengan umur simpan selama 4 hari. Kesimpulannya sari jeruk nipis dan belimbing wuluh dapat
digunakan sebagai bahan pengawet alami untuk produk tahu putih selama 3-4 hari pada suhu ruang

Published
2019-05-30
How to Cite
ARDIANTY, Geva Ajeng; SUWITA, I Komang. SARI JERUK NIPIS DAN BELIMBING WULUH SEBAGAI KOAGULAN DAN PENGAWET ALAMI PADA PROSES PEMBUATAN TAHU PUTIH. Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia (JIKI), [S.l.], v. 5, n. 1, p. 26-32, may 2019. ISSN 2615-5516. Available at: <http://ojs.poltekkes-malang.ac.id/index.php/JIKI/article/view/930>. Date accessed: 24 aug. 2019. doi: https://doi.org/10.31290/jiki.v5i1.930.